Rapat Penyusunan Pedoman Implementasi Islamisasi

Oleh: admin

Rabu pagi. 3 Februari 2021. Dr Setiawan membuka acara. Yang diadakan di ruang rapat senat tersebut. Sekaligus memberikan pendahuluan, bahwa rapat kali ini adalah tentang sharing, review dan menyiapkan masukan untuk draft kedua Pedoman Implementasi Islamisasi.

Prof Dr Hamid memberikan arahan. Bahwa presentasi pedoman ini, perlu diikuti agar dapat diberikan catatan untuk penyempurnaan. Karena, akan jadi pedoman yang terus berkembang. Yang belum terakomodir di dalamnya, termasuk pedoman untuk S-2 dan S-3. Termasuk perlu juga disinkronkan dengan AKPAM, sebagai instrument penilaian yang kuantitatif. Termasuk juga akan berkaitan dengan Fakultas dan prodi dalam memberikan penilaian kepada mahasiswanya. Selanjutnya, Dr Setiawan Lahir mensilakan Dr M. Kholid Muslih untuk menyampaikan presentasinya.

Dr M. Kholid Muslih menyampaikan, bahwa Pedoman ini adalah dokumen yang kedua. Setelah sebelumnya dibuat, namun belum banyak didiskusikan dan diberi masukan. Setelah mendapat banyak masukan dan tambahan dari berbagai biro dan lembaga serta unit lainnya; sehingga setidaknya dapat didiskusikan lebih lanjut. Beliau mensilakan ustadz M. Faqih Nidzom untuk mempresentasikan Draft tersebut.

Ustadz M Faqih Nidzom memulai bahwa agenda Islamisasi adalah agenda besar. Karena itu, detail perumusan dan pelaksanaannya perlu dirancang sebaik mungkin. Dimulai dari pendefinisian program dan landasan Islamisasi serta coraknya di UNIDA Gontor. Baik dari landasan filosofis, opersional, berikut renstra dan renop serta lainnya yang berkaitan dengan UNIDA Gontor. Termasuk juga mengambil berbagai masukan dari para dosen terkait Islamisasi dari berbagai perspektifnya.

Dalam implementasinya, Islamisasi perlu dijabarkan secara definitive. Berikut spektrum dan cakupannya. Serta berbagai macam pendekatan yang digunakan secara operasional dalam implementasinya. Terdapat setidaknya pendekatan seperti filosofis-epistemologis, historis, praktis-fiqh-akhlak-dan maqashid, edukatif,

Salah satunya adalah pendekatan sains Islam perspektif Alparslan Acikgence. Bahwa komponennya adalah prinsip Islam yang berupa bangunan yang komprehensif yang terdiri dari : metafisika, epistemologi, tata hukum, adab-etika, dan lainnya.

Sehingga, implementasi Islamisasi tidak melulu filosofis. Melangit dan tidak membumi. Melainkan, bisa diterapkan dalam disiplin ilmu apapun. Misalnya, jika pada ilmu farmasi belum mengkaji secara filosofis, ia dapat melalui pendekatan maqashid syariah, hukum, atau etika profesi.

Sebagai sarana pengembangan Ilmu, paradigma Islamisasi dapat dibreakdown ke dalam berbagai disiplin ilmu di prodi masing-masing. Ini akan perlu melibatkan berbagai dosen dalam disiplin ilmu dalam merumuskannya secara kolaboratif.

Di antara beberapa strategi yang sudah dilaksanakan; yakni pembentukan direktorat Islamisasi, penetapan 10 materi Islamisasi, serta merancang model kampus yang integratif. Ini adalah strategi sementara yang sudah berjalan dan akan ditingkatkan selalu.

Pada tataran monitoring dan evaluasi, telah diadakan review visi, misi, dan tujuan prodi. Juga kontrol proses belajar mengajar, diskusi dosen, diskusi mahasiswa. Termasuk juga pembinaan riset secara kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, terdpat pula monitoring IPK, tahsin, dan tahfidz mahasiswa.

Dr M Kholid Muslih membuka sesi diskusi.

Tanggapan pertama dari Dr M Fajar Pramono. Setidaknya, dalam pedoman perlu mencakup Tridarma Perguruan Tinggi. Dari segi penelitian, pedoman ini sepertinya perlu ditambahi hal yang terkait. Termasuk juga panduan riset.

Dr M Kholid mengkonfirmasi tanggapan tersebut. Yakni, jika diperlukan pedoman riset berbasis Islamisasi; maka sejauh mana langkah yang sudah dikerjakan?

Bagi Dr Fajar, bahwa suatu pedoman yang disusun secara komprehensif dan umum; akan memudahkan untuk improvisasi. Barulah, pada tataran detailnya digarap menjadi SOP serta panduan kerja di unit masing-masing.

Dr Setiawan memberikan tanggapan. Bahwa menurut pengamatan beliau, sudah banyak riset di UNIDA dilaksanakan memenuhi model implementasi tersebut. Di AFI S-2, sudah ada kajian pemikiran tokoh. Di Ekonomi Islam, sudah ada beberapa penelitian terkait pengukuran indeks suatu bank syariah dan lainnya. Namun, agaknya dari segi Sains dan Teknologi; akan butuh sarana untuk breakdown kepada point yang lebih detail.

Dr Kholid turut menjawab; bahwa mestinya, setidaknya riset dosen juga mencakup ini. Entah sebagian kajiannya bersifat filosofis 10% dan 90% praktis misalnya. Disambung lagi dengan Dr Imam Kamaluddin; yang juga menyetujui, tentang setidaknya pedoman ini sudah sebagian besar merepresentasikan implementasi Islamisasi di UNIDA ini.

Dr Mohammad Muslih turut memberi masukan. Selain bahwa semua unit kerja di UNIDA akan terkait Islamisasi, maka baik saja unit tersebut bisa memberikan pandangannya. Meski termasuk pandangan pribadi juga. Tanpa mengurangi komitmen kami di unit kerja masing-masing. Sebagaimana nomenklatur kita adalah Universitas Darussalam; bahwa tanpa kata ‘Islam’ sekalipun, kampus ini sudah akan diasosiasikan sebagai Universitas Islam. Sehingga, saya memahaminya sebagai pola hidup dan pola fikir yang tidak terlalu menegaskan kata Islam, namun sudah terbiasa hidup dan berfikir secara Islami.

Jika dari segi substansi, maka sejatinya apa yang terjadi di UNIDA sudah secara linear terbukti demikian. Namun dari segi nomenklatur, kata Islamisasi ini perlu dijabarkan secara manhaji dengan menyertakan tokoh masing-masing. Termasuk pula kita dapat mengambil atau adaptasi berbagai manhaj secara proporsional. Hal ini sebenarnya hal ini biasa terjadi. Anggaplah, secara fakta bahwa al-Attas memiliki 2 murid kesayangan. Yakni Adi Setia dan Wan Daud. Dan keduanya mengembangkan corak pemikiran al-Attas secara berbeda. Yang pertama mengembangkan sains dan paradigmanya, yang kedua bidang pendidikan.

Sehingga, baik juga jika direktorat Islamisasi bisa ‘terjun’ ke pengembangan ilmu secara fokus dengan prodi maupun dosen di wilayah UNIDA. Dari segi perspektif BPM, dapat dilihat bahwa pengelolaan perguruan tinggi didasarkan pada hal-hal yang tsabit dan mutaghayyir. Baik merujuk pada perundangan; misalnya keberadaan rektor dan struktur lainnya. Maupun adanya unit lain yang tsabit namun menjadi aspek keunikan perguruan tinggi tersebut. Program ini akan ‘dititipkan’ banyak kepada prodi dan Fakultas secara struktural. Misalnya, bahwa direktorat di UNIDA memiliki program yang menjiwai kampus. Jika dilaksanakan monitoring atau konfirmasi, maka mestinya dilakukan oleh struktur Kaprodi, Dekan, atau Rektor.

Dr Agus Budiman memberikan masukan. Terkait beberapa hal yang agak teknik maupun umum. Pertama dari segi kata pengantar; sebaiknya dibuat lebih memadai, bahkan juga diperpanjang sesuai kepentingannya. Agar dapat mengantarkan pembaca kepada pemahaman tentang implementasi Islamisasi di UNIDA. Termasuk, perlu penegasan: bagaimana makna Islamisasi yang akan diantarkan di buku pedoman ini. Pandangan beliau lainnya, bahwa strategi Islamisasi yang sudah ditulis hanya baru sebatas lembaga. Sebaiknya, memang perlu strategi yang menjiwai prodi serta Fakultasnya. Ini akan teknis, namun bisa menjadi strategi yang dapat digunakan.

Dr Mulyono Jamal pun turut memberikan pandangan. Yakni terkait cakupan bidang non akademik. Di antaranya menciptakan lingkungan yang Islami serta kondusif untuk menunjangnya. Termasuk bahwa UNIDA Gontor, adalah amanat wakaf dengan nomenklatur “tunduk pada hukum Islam…” sehingga, seluruh kehidupan di dalamnya mestinya perlu pola-pola. Termasuk pola asuh; yang di dalamnya mencakup pola kontrol sosial. Termasuk budaya amar ma’ruf nahi munkar bagi mahasiswa. Karena, akan meningkatkan kontrol sosial dalam komunitas kita. Yang selama ini, masih banyak berjalan pendekatan disiplin dan hukuman.

Dr Khoirul Umam pun menyampaikan pendapatnya. Bahwa istilah Islamisasi ini muncul dalam konteks tertentu. Khususnya al-Attas memunculkan terma ini dalam kaitannya dengan tantangan pemikiran dan ilmu kontemporer. Sehingga, baik saja jika strategi Islamisasi ini memiliki irisan dengan direktorat Kepesantrenan. Selain itu, fokus lainnya sudah dipertegas oleh unit masing-masing; meski model pendekatan dalam implementasinya perlu menentukan sasaran atau bisa mencakup menyasar seluruh sasaran yang dituju dalam pedoman ini. Termasuk perlu ada pedoman tentang Tridarma, maupun sebagai pedoman untuk unit lainnya.

Sehingga, kadangkala cakupan Direktorat Islamisasi dianggap terlalu luas dari beberapa sisi. Khususnya dari segi pedoman ini.

Dr Abdul Hafidz Zaid memberikan masukannya. Yakni, terkait bahwa pedoman ini masih banyak yang bersifat umum. Misalnya, direktorat Islamisasi merancang ‘model kampus integratif’; yang mana ini sebaiknya menjadi wilayah Direktorat Kepesantrenan.

Termasuk baik juga, jika pedoman ini memiliki jangka tahun. Agar bisa terlihat fokusnya. Lantas programnya dapat ‘dititipkan’ secara jelas dengan indikator penilaian yang disepakati. Untuk dilaksanakan di tataran Fakultas dan Prodi.

Termasuk, bahwa Direktorat ini perlu memiliki indikator yang terstruktur dan dapat dievaluasi. Termasuk sebagai instrumen mengukur ketercapaiannya dari segi organisasi.

Dr Imam Kamaluddin menambahkan, bahwa proses penyusunan ini akan dapat membantu penyusunan Renstra Fakultas dan Prodi. Terutama dari visi dan misi yang akan menuju evaluasi.

Dr Fajar memberikan tanggapan. Termasuk tentang memposisikan Direktorat Islamisasi dalam proses monitoring ada di sebelah mana? Lalu, perlu ada pembedaan antara strategi dan program. Strategi biasanya dibatasi pada jangka tertentu.

Misalnya, dari segi monitoring. Apakah yang dimonitoring adalah proses atau unit kerja? Karena, jika kontrol suatu proses atau unit; diperlukan batasan atau konsekuensi. Semisal dasar pasalnya hingga sanksi atau komitmen yang harus dijalankan.

Ustadz Hasib Amrullah memberikan masukan. Yakni tentang definisi dan ruang lingkup Islamisasi. Entah berupa direktorat maupun programnya. Misalnya, apakah Islamisasi perlu mengawal proses tridarma di prodi. Bahkan juga dosen yang ada di dalamnya. Dari segi keilmuan, perlu monitoring atas prodi. Yang kadangkala, kondisi, suasana, dan mata kuliahnya berpotensi mempengaruhi cara berfikir mahasiswa di dalamnya. Termasuk metode pendidikan dan pembelajaran, pola asuh, serta riset. Ini perlu pertanyaan untuk menelisik celah yang rawan dan perlu digenapi dengan masukan treatmen tertentu. Bahkan, hasil treatmen nya menjadi bahan untuk disampaikan ketika forum Sabtuan dosen atau forum mahasiswa.

Terkait ukuran, akan perlu indikator analisa untuk mengukur terserapnya nilai-nilai Islam. Yang dimulai dari penetapan definitif tentang Islamisasi di UNIDA.

Dr Nurhadi, secara live turut menyampaikan pandangannya. Dari kampus UNIDA putri. Dari segi Worldview dan Paradigma; tentu tidak perlu ada perdebatan. Namun, saat membreakdown ke dalam buku Pedoman, maka ia akan menjadi bentuk operasional. Yang berupa point, indikator, atau konsekuensi dan komitmen. Yang selanjutnya dijadikan dasar bagi Fakultas dalam memonitoring dosen dan kinerjanya.

Jika melihat secara operasional, kita dapat contoh dari model Islamisasi al Faruqi. Atau lainnya. Yang bisa ‘dicontoh’ model operasionalnya. Inilah yang sebaiknya kita butuhkan agar prodi dapat mengacu kepadanya. Dan akan menjadi pedoman bagi prodi dan unit kerja untuk melangkah.

Ust Haris Setyaningrum menambahkan. Bahwa Fakultas Saintek perlu mendapat banyak materi tentang Fiqh Maqashid. Terkait praktik penyelenggaraan teknologi dan penelitian terkait teknologi modern ini. Karena, di saintek juga akan membutuhkan pedoman riset saat melaksanakan riset model eksperimental.

Ukuran yang sebaiknya kita gunakan dalam riset, yakni soal publikasi. Yang coraknya akan berbeda. Misalnya di saintek akan banyak bersifat kuantitatif.

Prof Hamid menyampaikan pandangannya. Terkait dasar berfikir proses Islamisasi, yakni pada kasus masuknya Islam ke dunia Melayu. Di mana, terjadi islamisasi worldview yang dibuktikan dengan penyerapan dan penggunaan konsep kunci dalam Islam ke penggunaannya sehari-hari.

Renungan ini, serupa dengan yang terjadi saat ini. Manakala ilmu sekuler menghegemoni masyarakat dan menjadikan kebingungan dalam berfikir serta bertindak.

Soal asbabul nuzul kita menggunakan Islamisasi; yakni karena kesesuainnya dengan ide dalam amanat wakaf pondok. Yakni, manakala point ‘menjadi pusat pengkajian Islam’. Ini ada di penjabaran S-3. Kebetulan, tawaran al Attas sebagian dapat diambil aspek operasionalnya. Meski banyak hal yang lebih kokoh telah dibakukan dalam amanat wakaf Gontor.

Sejatinya, al Attas lah yang pertama kali menggunakan terma Islamisasi sebagai hasil renungan dan titik tolaknya menuju strateginya secara keilmuan. Selain itu, hanya membawa ide tentang sains Islam secara operasional saja.

Sehingga, pada tataran S-1, pendidikan dan pengajaran akan bermuara pada penanaman Worldview Islam yang benar. Karena, materinya akan memperkaya pandangan mereka tentang Islam. Ini perlu melalui rekonseptualisasi atas konsep kunci Islam. Atau menyajikan kritik atas kajian ‘konvensional’. Baik juga menyampaikan tausiyah terkait rekonseptualisasi tersebut. Atau penananam nilai Islam. Atau, dari segi hasil kuliah akan menjadi paper riset setingkat jurnal. Dengan bantuan dosen dari beberapa seginya.

Misalnya, dari segi riset; bahwa hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi tuntutan: 1) kajian konseptual yang membantu memperkaya konsep kunci Islam, 2) menjadi telaah kritis atas konsep non Islam, 3) tambahan studi tentang rekonseptualisasi konsep kunci Islam ke dalam konteks kontemporer.

Dari segi pengabdian atau keseharian, penanaman nilai Islam bisa melalui jalur akademik maupun non akademik yang bisa menuju pemenuhan kompetensi alumni UNIDA Gontor. Dalam wilayah Kepesantrenan, nanti akan ada pedoman terkait kegiatan yang bermuara pada Islamisasi worldview. Dengan penilaian yang kualitatif dan kuantitatif. Sesuai dengan rumusan 15 kompetensi yang ada yang bersinggungan dengan akademik.

Untuk riset bidang Sains Teknologi, perlu dimasukkan materi khusus maqashid syariah. Yang mestinya diajar oleh dosen spesialisasi syariah. Atau bisa melalui materi worldview syariah dengan pengayaan bidang maqashid.

Arsip:

link draft: Pertama, Kedua, Masukan dari rektor, link daftar hadir: Google Drive; link audio rekaman: (Google Drive)

Gambar Post

Asesmen Lapangan Doktoral AFI UNIDA Gontor

Jumat, 27 Februari 2021 Dengan hadirnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarksyi, M.A, berikut para…
Gambar Post

Simulasi Asesmen Lapangan Pascasarjana S-3 Universitas Darussalam Gontor

25 Februari 2021 Sudah sejak pagi. Staf sudah stand by di Ruang Rapat Senat. Sewaktu…
Gambar Post

Direktorat Islamisasi terbitkan berita Bekerjasama dengan web UNIDA Gontor.

Kolaborasi antar bagian memang sangat bermanfaat. Apalagi, dalam kampus bersistem pesantren; yang menekankan ukhuwah dalam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *