Bimtek dan Review Penyusunan Kurikulum berbasis OBE

Oleh: admin

Ahad pagi. 21 Maret 2021. Acara dimulai dengan registrasi peserta. Termasuk juga Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur., Sc yang sedang mengoreksi beberapa bahan kurikulum yang telah disusun oleh dosen di Prodi TI, TIP, dan AGRO. Kesemuanya telah menyusun kurikulum dengan format OBE (Outcome Based Education). Usai review dari beliau, pukul 09.00 acara dimulai secara resmi. Acara ini dilansungkan via zoom. Setiap prodi berada di kantor masing-masing dengan operatornya.

Ust Haris Setyaningrum, M.Sc selaku dekan memberikan sambutan awal. Yakni mengawali acara review bersama dan mendengar evaluasi dari Prof Hendrawan selaku reviewer. Kemudian, Prof Hendrawan memulai dengan pemaparan tentang hasil yang sudah jadi dan dikirim melalui email. Mulanya, beliau memulai ulang dengan meninjau bersama Standar Nasional Pendidikan. Yakni Permendikbud no. 3 tahun 2020 tentang SN Dikti. Di situ, setidaknya terdapat sekitar 8 standar.

Kurikulum berbasis OBE melibatkan implementasi dari Kampus Merdeka. Yakni perumusan kurikulum yang semakin diperbaiki secara berkelanjutan. Termasuk juga, evaluasi terhadap lulusan melalui tracer study setiap tahunnya. Yakni sebagai bagian dari akreditasi (penjaminan mutu) program studi secra internal, nasional, dan internasional.

Dari segi kurikulum, akan ada tahapan pengembangannya. Dari evaluasi capaian kurikulum, Masukan Asosiasi dan Stakeholder, serta integrasi dengan Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi dari Kurikulum dalam Universitas dan melibatkan konsorsium bidang ilmunya. Dari tahapan tersebut, dirumuskan profil lulusan.

Kurikulum memiliki landasan. Baik filosofis, sosiologis, dan historis. Dengan demikian, tetap perlu menegaskan bahwa sifat dari kurikulum ini adalah dinamis. Karena perubahan zaman dan tantangannya pula. Maka kurikulum yang baik yakni mampu membekali peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman. Yang setidaknya memiliki

Dalam landasan filosofis, beliau mencontohkan; bahwa dalam landasan filosofis bisa dirumuskan: ‘…membekali lulusan dengan ilmu berbasis prinsip Islam, sehingga terampil dan mampu untuk belajar sepanjang hayat. Serta mampu dan cakap beradaptasi, berinovasi, dan memecahkan permasalahan.” Rumusan ini memiliki aspek ‘prinsip Islam’, ‘menjamin mutu berupa ketrampilan’, ‘semangat inovasi’, serta ‘beradaptasi dan memecahkan masalah’.

Dari segi visi, boleh saja menuliskan batasan tahun. Atau bisa tanpa batasan tahun. Argumennya, karena visi bisa dijadikan harapan atau keinginan dan target minimal. Bisa juga, jika tak dibatasi tahun; maka visi tersebut harus bersifat dinamis dan sesuai di berbagai waktu. Beliau juga mengapresiasi Tujuan yang ditulis oleh AGRO. Yakni, ‘menghasilkan lulusan dengan spesialisasi yang memiliki karakter dan keilmuan’. Ini adalah kekhasan yang baik dan unik. Karena, sangat perlu mendahulukan sikap dan kompetensi berdimensi etika dan perilaku. Karena dengan itu, segala jenis keilmuan dapat diadaptasikan dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Beliau pun sependapat dengan itu; bahwa sebagaimana dalam sejarah pengutusan nabi Muhammad, sang nabi bukan dibekali dengan ilmu skil sosial atau teknik; melainkan dengan karakter akhlak yang baik. Ini bisa dijadikan jawaban untuk prospek terkait analisa SWOT. Beliau juga menegaskan, bahwa salah satu ukuran unggul seperti banyaknya professor dan doktor; namun tidak selalu menjadikan outputnya proporsional. Termasuk segi publikasi ilmiah, dan beban kerja serta pelaksanaan Tri Darma-nya.

Analisa SWOT faktor eksternal, bisa mengunggulkan model kajian dan keilmuan serta karakter peserta didik di institusi. Karena mungkin dari segi keilmuan dan kecanggihan fasilitas, bisa jadi belum bisa bersaing dengan kampus lain; namun secara karakter, life skil, dan keunikan kajiannya; akan berkemungkinan menjadi inovasi baru. Yang bahkan tidak bisa ditiru di kampus lainnya. soal ancaman (treat) perkembangan prodi, bukan selalu kekurangan peluang untuk menjadi PNS; melainkan melihat aspek teknis yang dinamis. Yakni tantangan sosial masyarakatnya untuk dapat berinovasi. Ini justru akan menjadi masukan dalam profil lulusan.

Soal tracer study, perlu dilakukan secara rutin. Meski belum bisa mencakup semua. Karena, monitoring ini akan membantu perumusan berbagai hal selain kurikulum. Bisa jadi, untuk melihat tingkat ketangguhan dalam bertahan hidup di lingkungan lain. Bahkan beliau melihat secara visioner; bahwa santri di pondok yang hidup seadanya, akan mungkin mampu bertahan secara kemandirian dan tangguh berjuang. Bukan hanya mengandalkan ketergantungan fasilitas saja. Ini sebenarnya dapat menjawab permasalahan psikologis yang dihadapi orang yang bekerja dan merantau; yakni terkadang terlalu berekspektasi dan tidak betah dengan keterbatasan. Ini pernah diungkap dari analisa atas lulusan dari beberapa universitas yang besar dan prodinya penuh fasilitas.

Prof Hendrawan pun menegaskan point ini sebagai keunggulan yang ‘dijual’. Meski dari segi keilmuan belum mumpuni, tetapi mentalitas dapat diandalkan dalam segala pekerjaan yang sulit sekalipun. Bukan hanya sekedar bekerja, namun mampu beradaptasi dengan masyarakat karena memiliki life skil yang juga mampu memimpin secara keagamaan dan sosial masyarakat. Meski adalah informal leader. Bahkan dari situ, mereka mampu mendirikan lembaga atau yayasan sosial. Ini akan menjadi rekognisi dari capaian lulusan yang berbasis kurikulum yang disusun di kampus ini.

Dalam merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan, pertamanya adalah menguasai teori dan keilmuan, lalu mengaplikasikan, serta mengevaluasinya. Dilanjutkan dengan ketrampilan khusus yang ditetapkan sesuai prodi. Dalam menuju capaian tersebut, perlu breakdown dalam bentuk kegiatan penunjangnya. Jika ada capaian ‘mampu berbahasa Arab dan Inggris’, maka perlu kegiatan yang menunjang ketercapaian kemampuan tersebut. Termasuk materi dalam kurikulumnya.

Hal tersebut, akan ada turunan dalam bentuk Body of Knowledge (BoK). Ini akan meringkas seluruh materi ajar yang dijabarkan dalam seluruh mata kuliah. Dalam tabel tersebut, terdapat program dan indikator kinerjanya. Selain itu, perlu pula melihat keselarasan antara CPL, CPMK, dan Profil Lulusan. Di antaranya berujud: matrik yang dijelaskan berupa tabel PLO. Dalam SN Dikti, ada 4 ranah: di antaranya Sikap, Ketrampilan Umum, dan Ketrampilan Khusus. Untuk mata kuliah seperti coding; ini tetap ada capaian sikap. Misalnya ketelitian. Hal ini perlu dibahasakan dari berbagai mata kuliah.

Untuk kekhasan bahasa, bisa dibantu dengan standar unggulan dan kurikulum. Misalnya, jika kita fokus juga dengan pengembangan bahasa Arab, bisa saja kita integrasikan materi kuliah tentang pelajaran terkait tanaman di Mediteran atau Arabia. Semisal Zaitun, Kurma, Tin, dan lainnya. Dengan harapan, bisa kegiatan magang dan penelitian ke daerah tersebut. Karena memang kemampuan bahasa juga sudah mumpuni. Tugas-tugas terstruktur pun, tidak selalu merupakan hal yang berat seperti membuat artikel. Justru yang penting, mahasiswa dapat belajar secara mandiri. Walaupun hanya 1 jam atau kurang dari itu; berupa melakukan analisa keterkaitan antara ilmu di prodi dengan ayat al-Qur’an.

Dalam penentuan SKS, perlu melihat beban tugas dan materinya. Anggaplah seperti, dalam suatu mata kuliah isinya adalah ‘menghitung jumlah kursi di suatu gedung perkuliahan’. Ini akan berbeda dengan mata kuliah yang isinya: ‘mengukur kualitas kursi di suatu gedung perkuliahan’. Karena, tujuan pembelajarannya berbeda. Tingkat kesulitan juga berbeda. yakni juga dari segi tingkat kedalaman materi, penguasaan, dan outputnya. Bisa saja, tugas magang bernilai 20 SKS. Dengan penilaian tertentu.

Tentang kekhasan prodi dari segi kajian Islamisasi, Prof Hendrawan justru mendukung agar dikembangkannya studi tentang keilmuan di prodi yang bisa dihubungkan dengan ilmu sosial keagamaan. Apalagi jika terbukti dapat menyelesaikan persoalan di masyarakat. Dari segi kurikulum dan profil lulusan pun, ini akan menjadi nilai tambah bagi UNIDA. Yang melaksanakan kajian keislaman secara seimbang dengan keilmuan kontemporer. Bahkan, mahasiswa dapat diberi tugas untuk mendiskusikan materi prodi dikaitkan dengan materi sosial-keagamaan seperti materi Islamisasi di UNIDA ini. Dari segi penilaian, dosen dapat mengintegrasikannya sebagai tugas terstruktur yang dapat dijadikan faktor penambah nilai.

Ketrampilan khusus mahasiswa, yakni dari segi manajemen, leadership, dan lainnya yang (kemungkinan) dianggap tidak sesuai dengan profil lulusan; seharusnya bukan dianggap sebagai kegagalan. Justru bisa dinilai dari segi survivalitasnya untuk sukses di bidang yang bukan linear dengan keilmuan yang dipelajari saat kuliah. Justru yang seperti ini adalah pandangan yang komprehensif. Bukan hanya konvensional. Ini perlu diukur dari segi indikator lainnya. termasuk memperhatikan faktor yang dianggap sebagai kegagalan. Karena, dari faktor itu bisa dijadikan argument untuk membuat kegiatan atau rumusan penunjangnya.

Sesi pertama berakhir pukul 11.52. Disela dengan istirahat, sholat dan makan. Hingga pukul 13.00. Pada sesi siang kali ini, Prof Hendrawan membimbing dan mengevaluasi hasil penyusunan kurikulum OBE yang telah disusun. Khususnya dari segi model penilaian OBE, yakni titik berat pada teknik penilaian per-CPL. Yang dinilai adalah presentasi ketercapaiannya.

Format OBE kali ini, memiliki beberapa perbedaan dari sebelumnya. Yakni terdapat perubahan kolom yang mengintegrasikan pembelajaran daring. Di tabel kolom kedua adalah CPL. Lalu kolom kedua adalah tujuan instruksional khusus. Diisi dengan target: ‘mahasiswa mampu…’. Selanjutnya, dilanjutkan dengan kolom bahan ajar, referensi, dan bobot nilainya. Ini akan disesuaikan dengan Sub-CPMK; dan dihubungkan dengan CPL. Model Kuliah juga beragam, selain ceramah dan reading. Bisa juga diberi tugas seperti belajar kolaboratif di luar kelas atau proyek penelitian. Baik mengumpulkan data, wawancara, hingga analisa data dengan platform teknologi atau ke instansi pemerintah dan lab. Ini akan menegaskan output perkuliahan dan membuat pembelajaran menjadi lebih efektif.

Hal ini mendorong dosen untuk membuat bahan riset atau proyek. Agar dapat dikerjakan oleh mahasiswa melalui metode ‘pembelajaran berbasis proyek’ atau studi kasus. Sehingga, hal tersebut dapat muncul dalam RPS. Yakni kajian yang fokus atas satu aspek saja setiap pertemuan.

Dalam hal evaluasi, program studi bisa membuat bank soal dan model kuliah tahunan. Agar dapat dipetakan persoalan capaian lulusan atau tingkat dan mutu nilai mahasiswa. Pemetaan ini akan menjadi evaluasi; kemudian berupa bahan untuk dikendalikan dalam bentuk program tindak lanjut.

Acara diakhiri dengan foto bersama via zoom dan pamitan dengan Prof Hendrawan.

Gambar Post

Hibah Internal di UNIDA

Rabu pagi. 24 Maret 2021. Sudah sejak pukul 08.00, tiket masuk ke ruang online zoom…
Gambar Post

Bimtek dan Review Penyusunan Kurikulum berbasis OBE

Ahad pagi. 21 Maret 2021. Acara dimulai dengan registrasi peserta. Termasuk juga Prof. Dr. Ir.…
Gambar Post

Asesmen Lapangan Doktoral AFI UNIDA Gontor

Jumat, 27 Februari 2021 Dengan hadirnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarksyi, M.A, berikut para…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *